a little thought after watching ‘cin(T)a’

hari ini Tama (temen sekelas waktu SD) nginep di rumah. dia bawa film yang judulnya ‘cin(T)a‘, yang udah dari dulu-dulu dia rekomendasiin. tadi kita nonton bareng filmnya, dan sempet bahas masalah perbedaan agama, ras, dan budaya habis nonton. filmnya tentang Annisa (jawa, Islam) sama Cina (batak, Kristen) yang saling suka tapi terbatas perbedaan-perbedaan itu. kasusnya Tama mirip mereka, tapi ga ‘se-ekstrim’ itu katanya.. hehe. tapi intinya perbedaan ras dan budaya ga masalah buat dia (menurutku juga gitu sih), cuma agama aja yang ga bisa diganggu gugat. Tama juga sempet cerita tentang pengalaman dan pengetahuannya tentang chinese (people and tradition). kayak bahwa mereka mandiri dan independen, bahwa masih ada ‘kekhawatiran’ tentang perbedaan ras itu yang membuat mereka cenderung “eksklusif” di mata primitif Indonesia. nyatanya emang banyak yang iri kan, kalo para chinese bisa sukses dengan usaha dagang mereka.. dan (kata Tama) mereka emang menghindari posisi-posisi strategis kayak guru, politikus, atau public figure lain demi kelangsungan hidup *halah*. karena nyatanya primitif Indonesia emang brutal kan? (some big part of us, not all)

film itu bikin mikir. bagus, tapi berat buat yang ga kuat; karena itu sedikit ‘menantang iman’. mempertanyakan realita, mencari bukti keadilan — bahkan keberadaan tuhan; terutama dalam musibah (disitu maksudnya peristiwa pemboman gereja-gereja menjelang natal).

salah satu pesan yang aku tangkep itu: “kenapa ga bisa hidup di Indonesia damai dengan toleransi antarsuku, antarumat beragama?”. dan film itu mengingatkan pada pikiran yang dulu pernah muncul; kenapa Indonesia harus terbatas suku, ras, atau budaya? kan umumnya banyak yang lebih memilih untuk mempertahankan garis keturunan — kesamaan suku / ras / budaya — mereka daripada mengambil resiko dengan orang ‘seberang’ (yang berbeda suku / ras / budaya). tau laaah, ini mengarah kemana… kemungkinan besar keluarga dengan latar belakang budaya tertentu, yang masih memegang teguh tradisi turun temurun, akan lebih memilih ‘calon’ dari suku atau latar belakang budaya yang sama pula. *sigh*

yang bikin film cin(T)a itu (the crew, maksudnya) pengen Indonesia yang damai — tenteram, ga rasis, ga diskriminatif, ga ekstrim kalo tentang perbedaan-perbedaan terutama agama, ras, budaya. aku juga pengennya gitu, hai mbak-mas yang bikin film~

kenapa orang primitif (mayoritas) susah toleransi, terbuka pada perbedaan-perbedaan gitu? kenapa harus ada diskriminasi? punya perbedaan gitu kan bukan berarti ga ada persamaan. kenapa malah lebih menonjolkan perbedaan? bukankah dengan begitu kita justru semakin terkotak-kotak? mana yang katanya “Bhineka Tunggal Ika”? udah lupa isis dan makna ideologi negara? ckck Indonesia… sibuk perang di dalem padahal diserang juga dari luar. “orang bodoh gampang diprovokasi” kata cina. iya bener. percuma aja agama bener — bagus, tapi ga bisa mikir.. haha

Allah menciptakan semua perbedaan agar kita bisa hidup rukun, bermanfaat, dan jadi ibadah kan. perbedaanlah yang memperindah dunia. bayangin aja semua sama, monoton. apa ga bosen? apa bisa ngebedain? setiap manusia, setiap kepribadian itu unik.. aaah lagi-lagi kalo udah gini, sampe ke kalimat ‘semua yang terjadi pasti ada maksud, tujuannya’. baik atau buruk peristiwanya. tinggal kita yang cari tahu maksudnya.

Sunday, January 29th 2012.

PS:

sudah satu tahun yang lalu memang, bahkan lebih. ternyata pernah punya catatan begini juga.. haha. ada beberapa hal yang butuh diklarifikasi sebenarnya. salah satunya saya anjurkan untuk menonton film cin(T)a dulu, supaya lebih mengerti kenapa pikiran-pikiran seperti diatas bisa muncul. supaya lebih jelas apa yang diceritakan di film cin(T)a, sehingga saya dan teman saya itu merasa memiliki kesamaan, dan tersentil untuk berdiskusi seperti yang sekilas digambarkan diatas.
dan tentu saja, saya sendiri merasa ada sedikit generalisasi berlebihan di catatan ini ketika tercetus kata ‘Indonesia’ atau masyarakat primitif Indonesia. bukan berarti semua orang Indonesia berpikir atau berlaku seperti itu, tetapi memang ada sebagian — entah bisa disebut besar atau tidak — yang masih sangat ‘menekankan’ perbedaan-perbedaan tersebut. semoga kita tidak termasuk diantaranya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s