Jakarta, Diplomatic City of ASEAN

ASEAN, Association of Southeast Asian Nations, didirikan pada bulan Agustus 1967 oleh Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura. Keanggotaan ASEAN bertambah seiring berjalannya waktu, dan hingga saat ini memiliki 10 negara anggota (termasuk Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar). Sebagai sebuah organisasi, ASEAN memiliki jajaran pengurus dan lokasi khusus yang ditentukan sebagai sekretariat. Sekretariat ASEAN saat ini bertempat di Jalan Sisingamangaraja 70 A, Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia.

Menjadi tuan rumah dari organisasi geopolitik dan ekonomi kawasan Asia Tenggara merupakan sebuah kehormatan yang mengandung kepercayaan dari rekan-rekan sesama anggota. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan anggota yang dominan hingga akhir tahun 1990an, walaupun dominansinya tidak sekuat Jerman di European Union (EU) atau Amerika Serikat di Organization of American States (OAS). Sayangnya di penghujung 1990an dan awal 2000an Indonesia mengalami penurunan sistem politik dan ekonomi, sehingga karena lebih berfokus pada masalah internal kenegaraan dan mengurangi keaktifan di kancah ASEAN. Kemampuan Indonesia untuk bangkit dari krisis yang melanda dan menjalankan demokrasi, mampu mempertahankan kepercayaan negara-negara tetangga akan potensi yang dimiliki. Indonesia pun kerap kali dimintai bantuan untuk menengahi konflik antarnegara ASEAN, seperti sengketa perbatasan Thailand dengan Kamboja, membantu proses reformasi Myanmar, dan isu-isu regional lainnya.

Diantara sekian banyak kota di Indonesia, mengapa Jakarta yang dipilih untuk menjadi markas atau sekretariat ASEAN? Jakarta yang merupakan pusat administrasi negara, menawarkan akses informasi dan sumber daya untuk berbagai keperluan administrasi tingkat nasional. Hubungan internasional yang dijalin juga berpusat di kota ini; ditandai dengan keberadaan kedutaan besar negara-negara rekanan. Letak Jakarta yang strategis; hanya 1 jam 20 menit dari Singapura, 6 jam dari Sidney, 7 jam dari Tokyo, 8 jam dari Beijing dan 8 jam dari New Delhi, menjadi daya tarik tersendiri bagi para diplomat internasional.

Menjadi lokasi sekretariat ASEAN memberikan berbagai dampak bagi Indonesia, khususnya Jakarta. Melalui adanya berbagai event regional ASEAN maupun internasional dengan Indonesia sebagai tuan rumah acara, memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menonjolkan kepribadian dan segala potensinya. Misalnya, bahwa selain keindahan alam yang mempesona, Indonesia juga memiliki budaya dan tradisi yang khas dan patut dilestarikan. Atau bahwa Jakarta sebagai ibukota negara tidak kalah saing dengan kota di negara-negara berkembang dalam hal fasilitas, dan daya beli penduduknya.. Jakarta menjadi semakin kaya akan keberagaman, sehubungan dengan posisinya sebagai titik temu bermacam kebudayaan yang dibawa dari negara-negara asing yang berkunjung. Pertumbuhan ekonomi juga dapat meningkat, dengan bertambahnya konsumen dan investor dari berbagai negara. Perkembangan infrastruktur juga turut mengiringi, karena sebagai tuan rumah tentunya ingin menyajikan suasana dan fasilitas yang nyaman bagi para tamu.

Namun, Indonesia harus cermat dalam menentukan langkah agar tidak kehilangan esensi dirinya. Bermacam kebudayaan dan tradisi yang masuk bisa jadi menggeser kebudayaan dan tradisi lokal yang diwariskan turun temurun. Globalisasi, westernisasi, atau tradisi yang berasal dari negara maju memang memiliki poin positif untuk diterapkan. Tetapi tidak serta merta diterapkan begitu saja; membutuhkan penyesuaian terhadap karakteristik negara, karena ada nilai-nilai yang tetap harus dijaga. Dari bidang ekonomi, Indonesia juga perlu menentukan strategi untuk menjaga produk lokal agar tidak kalah saing dengan produk asing, sehingga dominansi negara asing secara ekonomi bisa diminimalisir.

Dipercaya menjadi tuan rumah organisasi regional Asia Tenggara hendaknya tidak membuat Indonesia lantas besar kepala dan berhenti berkembang. Persiapan demi persiapan harus ditempuh agar dapat menyajikan performa yang optimal dalam menjalankan tugas sebagai tuan rumah, sehingga kepercayaan dari negara-negara tetangga menjadi semakin kuat. Salah satu bidang yang hendaknya menjadi fokus perbaikan adalah infrastuktur. Masalah transportasi publik, sarana infrastruktur lain seperti jalan, fasilitas-fasilitas umum, memang bukanlah hal yang baru. Jika tidak mendapat penanganan, masalah-masalah tersebut dapat menjadi poin negatif yang menekan kunjungan dari negara-negara lain. Berbagai upaya untuk menjadikan Jakarta lebih teratur dan ‘lebih hijau’ juga merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah Jakarta. Dengan usaha-usaha yang telah dan akan ditempuh oleh Indonesia demi menjadi tuan rumah ASEAN yang semakin baik, diharapkan dapat memperkuat kepercayaan negara-negara tetangga dan membuat Indonesia semakin aktif pula berkontribusi di kancah Asia Tenggara maupun dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s