ASEAN Community 2015: Here We Come!

Konferensi tingkat tinggi (KTT) merupakan salah satu agenda rutin ASEAN yang diselenggarakan setiap tahunnya. Pertemuan negara-negara anggota ASEAN ini membahas isu-isu di tingkat kawasan dan internasional, termasuk rencana-rencana di masa mendatang. Tahun 2013 ini yang menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-22 adalah Brunei Darussalam. Isu yang menjadi pokok perundingan adalah pembangunan ASEAN Community 2015, sebagai badan persatuan ASEAN. Kesepuluh negara anggota ASEAN telah berkomitmen menyelesaikan program ASEAN Community 2015 sebelum 31 Desember 2015. Maka dalam KTT ASEAN ke-22 yang berlangsung selama dua hari, 24 – 25 April 2013 dibahas sejauh mana persiapan para anggota menjelang ASEAN Community 2015.

ASEAN Community 2015, sebagai badan persatuan ASEAN, memiliki tiga pilar: Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi, dan Persatuan Sosial-Kebudayaan. Melalui ketiga pilar yang semakin diperkokoh dari tahun ke tahun, kesepuluh negara ASEAN berupaya membentuk komunitas yang satu – satu, sebagai ASEAN – memiliki hubungan antarnegara yang semakin baik, serta menciptakan situasi yang kondusif untuk tumbuh kembang anggota-anggotanya di berbagai bidang.

Bulan Desember 2015 sudah didepan mata; mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan ASEAN Community 2015 tepat waktu? Mengapa tidak? Melalui komitmen dari setiap anggota, serta ketiga pilar yang telah dirancang untuk menjadi jalur yang akan membawa negara-negara ASEAN menuju satu komunitas besar, saling bahu-membahu dalam mengimplementasikan perkembangan.

Pilar yang pertama, Persatuan Keamanan, diharapkan dapat mewujudkan keamanan kawasan ASEAN. Negara-negara anggota bersama membangun dan mempertahankan keamanan kawasan, membahas dan menyelesaikan isu antarnegara dalam bidang ini, jika ada. Sebagai contoh, saat KTT yang berlangsung di Bandar Seri Begawan bulan April lalu selain membahas persiapan menuju ASEAN Community 2015, juga membahas isu kedaulatan Laut China Selatan. Beberapa negara ASEAN sampai saat ini bersaing dengan China untuk mengklaim sejumlah pulau di Laut China Selatan yang kaya dengan hasil laut dan sumber energi. Masalah klaim pulau di Laut China Selatan masih akan menempuh perundingan lebih lanjut hingga tercapai kesepakatan antarpihak yang terlibat. Hal ini menunjukkan upaya ASEAN menjalankan peran sehubungan pilar keamanan; berusaha mengantarkan pihak-pihak berkonflik kepada solusi kesepakatan dengan cara damai.

Pilar yang kedua, Persatuan Ekonomi, diharapkan dapat menjadikan ASEAN sebuah pasar tunggal dan basis produksi, menjadi kawasan yang semakin kompetitif dan terintegrasi dengan ekonomi global. Adanya berbagai perjanjian dagang antarnegara anggota maupun dengan negara diluar ASEAN (seperti perjanjian perdagangan bebas dengan China) membantu pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota yang terlibat. Perdagangan bebas menuntut negara-negara ASEAN semakin meningkatkan kualitas produk agar tidak kalah saing dengan produk asing yang beredar. Kompetisi seperti ini jelas membuat negara anggota semakin kompetitif, sehingga dapat lebih mempersiapkan diri untuk bersaing di pasar global.  Diantara ketiga pilar, pilar kedua inilah yang perkembangannya paling cepat. Hingga saat ini, ASEAN telah menyelesaikan 77,5 persen dari blueprint Persatuan Ekonomi.

Pilar yang ketiga, Persatuan Sosial-Kebudayaan diharapkan dapat memperkuat rasa ke-kita-an dan solidaritas antarwarga ASEAN. Berbagai program kerjasama telah dilaksanakan, diantaranya proyek rekondisi dan telusur sejarah Candi Angkor Wat di Kamboja; antara Indonesia dengan Kamboja. Candi Angkor Wat yang terletak di Kamboja memiliki kemiripan dengan Candi Borobudur di Indonesia. Karena adanya kemiripan ini, kedua negara mencanangkan proyek penelusuran sejarah dibalik kedua candi. Berbagai kesamaan yang dimiliki menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN terhubung, lebih dari sekedar sekelompok negara yang berlokasi di Asia Tenggara.

Ketiga pilar dengan masing-masing blueprint-nya siap dijalankan dan mencapai progress yang lebih jauh ditangan kesepuluh negara ASEAN. Namun jangan dilupakan, bahwa ada hal yang juga sangat penting untuk digarap; yaitu public awareness atau kesadaran publik. Upaya-upaya mewujudkan ASEAN Community 2015 tidak terbatas pada level pemerintah, dengan segala kebijakan skala negara bahkan antarnegara, melainkan mencakup masyarakat di setiap negara. Sudahkah ditinjau sejauh mana warganegara mengetahui adanya program ASEAN Community 2015? Apakah warganegara menyadari bahwa selain identitas kewarganegaraan masing-masing, ada pula identitas kolektif sebagai warga ASEAN? Pemerintah tiap negara hendaknya segera melancarkan aksi-aksi untuk meningkatkan kesadaran publik akan keberadaan komunitas ASEAN. Dan bukan hanya pemerintah saja yang bisa melakukan usaha meningkatkan kesadaran publik; kita-kita yang sudah mengetahui lebih dulu ini pun bisa membantu. Entah itu lewat obrolan dari mulut ke mulut, sosialisasi melalui organisasi terkait, atau lewat postingan di berbagai media sosial, termasuk blog. Maka jelaslah peran para blogger disini, menjadi sarana sosialisasi, membantu meningkatkan kesadaran publik akan perubahan besar yang semakin dekat. Kalau memang bisa berkontribusi, mengapa tidak turut serta?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s