Pedra Branca: Sebuah Ujian ditengah Perjalanan Menuju ASEAN Community 2015

Menjelang ASEAN Community 2015, banyak kerjasama yang dijalin negara-negara anggota ASEAN dalam berbagai bidang. Terutama dalam bidang-bidang yang menjadi pilar dari ASEAN Community 2015, yaitu politik-keamanan, ekonomi, sosial-budaya. Sayangnya, saat ini masih ada anggota yang memiliki sengketa antarnegara, seperti Singapura dan Malaysia.

Singapura dan Malaysia bersengketa terkait perbatasan antarnegara, memperebutkan klaim pulau-pulau di pintu masuk sebelah timur Selat Singapura. Ketiga pulau tersebut adalah pulau Pedra Branca, yang oleh Malaysia disebut Batu Puteh, pulau Batuan Tengah, dan pulau Karang Selatan.  Singapura mengklaim Pedra Branca masuk wilayahnya, namun pada tahun 1979 Malaysia merilis peta negara yang mencantumkan Pedra Branca di wilayahnya. Menurut Malaysia, Pedra Branca alias Batu Puteh masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Johor di masa lalu. Namun Malaysia memilih untuk diam dan tidak berbuat apa-apa saat Singapura mulai membangun mercusuar Horsburgh di Pedra Branca. Tindakan diam ini dianggap sebagai persetujuan.

Kedua negara sepakat untuk mendaftarkan perkara ini ke Mahkamah Internasional pada tahun 2003. Di pengadilan Singapura dapat menunjukkan dokumen yang dikirim Kesultanan Johor kepada Pemerintah Inggris tahun 1953, menyatakan bahwa Pedra Branca tidak termasuk wilayah kekuasaannya. Maka pada tahun 2008 Mahkamah Internasional menyerahkan Pedra Branca ke Singapura, dan Malaysia mendapatkan Batuan Tengah. Kepemilikan Karang Selatan belum ditentukan, karena Singapura dan Malaysia tidak memandatkan pengadilan PBB untuk menentukan batas kedua negara, karena Karang Selatan hanya bisa dilihat ketika pasang rendah.

Keputusan Mahkamah Internasional yang menyerahkan Pedra Branca ke Singapura kurang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Malaysia. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat adanya anggapan bahwa pulau-pulau tersebut masih termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Johor. Karena masih termasuk wilayah Kesultanan Johor, maka masih termasuk wilayah Malaysia. Namun keputusan pengadilan hanya memberikan Batuan Tengah kepada Malaysia, sedangkan untuk batas antarnegara dirundingkan oleh kedua negara diluar pengadilan PBB. Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi pun telah menegaskan bahwa meskipun sedih, pemerintahnya dapat menerima keputusan pengadilan.

Sungguh sangat disayangkan jika perkara ini masih dipermasalahkan ketika kita sedang bersama-sama menuju ASEAN Community 2015. Bukankah kita tidak ingin program-program yang sudah dicanangkan terhambat progress-nya karena sengketa antarnegara yang bertetangga ini? Agar tidak kian berlarut-larut, akan lebih baik jika kedua negara menerima keputusan pengadilan PBB dan mengalihkan fokus ke masalah lainnya. Singapura yang telah mendapatkan Pedra Branca, dan Malaysia yang telah mendapatkan Batuan Tengah dapat memanfaatkan aset yang diperoleh dari keputusan ini secara optimal, serta menerapkan strategi yang semakin efektif dalam mempertahankan batas-batas wilayah negaranya. Selain itu, kedua negara juga tetap harus merundingkan secara damai batas wilayah antarnegara terkait dengan diperolehnya pulau-pulau tersebut. Batas wilayah antarnegara ini harus dapat ditentukan secara jelas, untuk menghindari adanya konflik serupa Pedra Branca di masa mendatang. Ketika persetujuan telah tercapai, kedua negara dapat semakin optimal berkontribusi dalam upaya-upaya menyambut ASEAN Community 2015, serta mewujudkan One Vision, One Identity, One Community.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s