Indonesia, Vietnam, dan Kopi

Kopi bukanlah barang yang asing untuk kita orang Indonesia, justru sudah sangat melekat dengan budaya. Berbagai lapisan masyarakat akrab dengan kopi, untuk menemani aktivitas sehari-hari. Ada yang lebih suka kopi saat sarapan pagi, ada yang memilih saat bersantai di sore hari untuk menikmati kopi. Juga bagi teman-teman mahasiswa, kopi sering menjadi ‘senjata’ dalam mengusir kantuk saat mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Masa kecil yang saya habiskan di kota kecil bernama Baturaja, Sumatera Selatan juga tak lepas dari kopi. Setiap ada warga yang punya hajat, baik itu pernikahan, sunatan, atau syukuran biasa pasti menyajikan kopi. Setiap rumah pasti punya kopi. Jangan salah, kopinya bukan kopi sembarang kopi; tetap kopi yang berkualitas baik. Dan entah kenapa, kopi yang ada disana terasa lebih ‘menggigit’ daripada yang ada disini (sekarang domisili saya di Surakarta, a.k.a Solo). Apa mungkin karena disana masih banyak warga yang menghasilkan kopi dari kebunnya sendiri, sehingga kopinya masih fresh? Atau karena jenis kopinya yang memang berbeda? Yah, lain kali kalau ada kesempatan kita adakan investigasi untuk masalah ini.

Mari kita tengok ke bagian atas Sumatera; Sumatera Barat misalnya. Masyarakat Minangkabau tidak bisa lepas dari kopi. Kopi menjadi bagian dari sistem nilai yang diwariskan turun temurun; yaitu bahwa selain belajar di surau, mereka juga perlu belajar di kapau (warung kopi) sebelum bisa merantau meninggalkan kampungnya. Disini kopi menjadi elemen penting yang memfasilitasi proses belajar dan bersosialisasi masyarakat Minang. Belajar di kapau atau warung kopi harus dilalui, sebagai persyaratan untuk dapat merantau.
Kalau kita jalan-jalan sedikit ke bagian lebih atas lagi dari Sumatera, ada juga yang terkenal dengan kopinya: Daerah Istimewa Aceh. Ya, siapa yang belum pernah mendengar tentang dahsyatnya kopi Aceh? Yang satu ini memang harus dicoba. Bagian selatan pulau Sumatera juga oke kualitas kopinya; yaitu di provinsi Lampung. Kopi Lampung juga khas, dan patut disertakan dalam daftar coffee-to-taste Anda. Setelah mencoba berbagai macam kopi yang berasal dari Sumatera, saya bisa berkesimpulan bahwa kopi Sumatera memang sangat baik dalam kualitas. Padahal ini baru pulau Sumatera saja, masih ada kopi dari pulau Jawa, dan kopi dari Tana Toraja, yang juga terkenal akan kualitasnya. Indonesia memang kaya..

Indonesia, sebagai produsen kopi, menempati posisi ketiga sebagai negara penghasil kopi terbesar setelah Brazil dan Vietnam. Ternyata rekan sesama negara ASEAN juga ada yang berprestasi lewat produksi kopi. Mengapa Indonesia bertahan di posisi ketiga, belum bisa merangkak ke posisi teratas? Memang ada beberapa alasan untuk ini. Mulai dari penggunaan bibit unggul yang belum merata, petani yang kurang terampil dalam menerapkan cara bercocok tanam yang sesuai dengan komoditi, kurang tersedianya teknologi yang memadai, serta kurangnya dukungan dari pemerintah (misal harga pupuk yang tak terjangkau). Akan sangat disayangkan jika masalah-masalah ini tidak diatasi, karena sebenarnya masih ada peluang untuk menguasai pangsa pasar melalui produksi kopi. Salah satunya adalah melalui kerjasama dengan negara tetangga kita, Vietnam.

Menduduki posisi kedua dan ketiga dalam produksi kopi terbesar di dunia, berarti memang ada potensi besar yang dimiliki Vietnam dan Indonesia. Selain bersaing sehat, kerjasama juga bisa dijalin untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi agar dapat menguasai pangsa pasar kopi dunia. Kualitas kopi Indonesia oleh berbagai negara diakui lebih unggul daripada Vietnam, walau Vietnam masih lebih unggul secara kuantitas. Kerjasama yang dibangun dapat berupa menerapkan bermacam inovasi, melakukan berbagai riset untuk meningkatkan kualitas bibit; atau mengembangkan jenis baru yang lebih berkualitas. Kenyataanya, Indonesia memang masih lemah dalam hal teknologi. Maka dengan bantuan pengalamannya dalam bidang teknologi Vietnam dapat membimbing Indonesia mengembangkan teknologi pertanian yang lebih advanced untuk hasil yang semakin optimal. Namun jangan dilupakan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani akan teknologi yang sedang dikembangkan dan diterapkan juga penting; mengingat sentuhan petani pula yang turut menentukan keberhasilan bercocok tanam.

Beberapa poin yang diungkapkan diatas hanya sebagian dari hal-hal yang bisa dilakukan dalam kerjasama Indonesia-Vietnam untuk meningkatkan produksi kopi. Selain untuk mempererat hubungan antarnegara, kerjasama ini juga bisa mendukung program yang dikembangkan ASEAN; yaitu sertifikasi kopi. Sertfikasi ini disesuaikan dengan negara produsen, yang kemudian akan disosialisasikan ke negara konsumen. Mengingat Indonesia dan Vietnam merupakan negara produsen kopi, kerjasama yang dibangun kedua negara dapat mempermudah berjalannya program ini. Selain itu dapat pula memperpendek langkah menuju ASEAN Community 2015 yang sudah didepan mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s